Kriteria ibadah puasa Ramadan yang berkualitas adalah yang puasanya dilandasi keimananan dan kesadaran.Pengamalnya dapatlah digolongkan sebagai orang yang mempunyai kecerdasan spiritual (spiritual intellgence) yang tinggi.

Spirirtual intellgence merupakan temuan riset terbaru dibidang kecerdasan, melengkapi temuan-temuan sebelumnya, yakni kecerdasan intelektual (intellgence quotient/IQ dan kecerdasan emosial ( emotional intellgence/EQ).

Publikasi hasil penelitian yang dilakukan oleh Daniel Goleman (seorang psikolog) menggambarkan bahwa, kecerdasan emosial yaitu kesadaran dan kemampuan untuk menangani perasaan (emosi) ternyata lebih menentukan keberhasilan dan kebahagian seseorang daripada kecerdasan intelektual.

Dalam perkembangannya, temuan jenis “Q” ketiga, yakni kecerdasan spiritual (SQ) yang sering disebut Danah Zohar dan Ian Marshall ( ahli psikologi ) sebagai puncak kecerdasan ( ultimate intellgence). Jika IQ berdasarkan nalar, rasio intelektual, sementara EQ pada emosi maka SQ disandarkan pada jiwa-hati.

Kecerdasan spiritual (SQ) hanya berada pada prototipe manusia yang bersih secara spiritual, dilandasi jiwa yang damai dan tenang (annafsul-muthmainnah)yang bisa menjalin kontak spiritual dengan Rab (Tuhan)-nya.Dengan annafsul-muthmainnah,maka sifat kikir dan tamak berubah menjadi sifat rela berkorban.
Sifat tidak jujur,maksiat dan korup berubah menjadi sifat wajar dan penuh pengabdian.

Sifat pemarah, rihati mementingkan diri sendiri berganti menjadi sifat sabar, kasih sayang, toleransi dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Sifat sombong berubah menjadi sifat berbudi luhur.

Apabila kesadaran spiritual telah mencapai taraf demikian maka nafsu suci seseorang akan mendapatkan panggilan Allah, seperti termaktub dalam Q.S. Al Fajr 8 (27,28,29,30). “Hai jiwa yang tenang, Kembalilah pada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah kedalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah kedalam surga-Ku”

An Nafsul-Muthmainnah yang telah dapat mengalahkan nafsul-ammarah, seperti dalam Q.S Yusuf 12 (53) dan nafsul-lawwamah Q.S.Al Qiyamah 75 (2) berarti jiwa yang tenang menerima segala kabar gembira (basyiran) ataupun kabar yang menakutkan (nadziran) yang telah mencapai makrifat dapat melaksanakan perintah ibadah puasa sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW. Manshaama romadhoona imanan waktisaban ghufiralahu mataqaddama mindambihi.